Seni Melepaskan Beban Hidup

 Oleh: Sahrul Ramadhan, MSc.


          Sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini? Sebagian dari kita pasti pernah merasa; ''mengapa dunia tidak adil?, Haduh, dengan gaji segini aku bisa apa? mengapa harus aku yang tidak memiliki orangtua?, kenapa aku memiliki kulit yang gelap?, mengapa aku yang paling jelek?, aku sudah baik tapi masih saja pasanganku selingkuh, enak ya jadi orang kaya kalo kita yg miskin hidup ini terasa susah, aku tak memiliki orang yang menyayangiku, aku itu tak berarti, kenapa hanya aku yang susah untuk belajar, musibah apalagi ini kok rasanya hanya aku yang diuji begitu berat''. 

     Kita berlabuh mengarungi kehidupan ini, terkadang ombak yang kuat mengguncang seisi kapal, badai yang tiba - tiba menerjang mengubah haluan dan dalam beberapa tujuan kita mendapati bagian kapal yang rusak. Untuk tetap bisa bertahan dalam situasi dan kondisi apapun kita sendiri yang membuat kebijakan dan keputusan, entah itu akan membawa kita menuju kemudahan atau kesengsaraan. Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menghindari semua permasalahan hidup hingga akhir hayatnya, karena memang sejatinya masalah itu dihadapi dengan solusi, bukan mencoba menepis rintangan itu sendiri. Memang benar adanya, manusia yang mendambakan kedamaian hidup itu ialah dengan berusaha menganalisis dan memilah perihal-perihal yang akan memberikannya energi positif untuk mengisi tangki semangat hidupnya, bukan malah menghindar daripadanya.

     Walaupun demikian, realita hidup yang dihadapkan terkadang membuat kita sesak untuk bernafas, jiwa yang lemah ini seakan-akan dicekik oleh penderitaan akan ketidakmampuan melawan takdir dan komentar negatif orang lain.  Tidak sedikit manusia yang jatuh ke jurang keputusasaan, mereka menyerah karena merasa beban yang dipikul terlalu berat. Dengan begitu tanpa adanya perlawanan dan usaha menjadikan jiwa tersebut dalam mode pasif. Saat jiwa manusia memasuki mode pasif, ia akan merasakan sensasi aman dan tenang sekalipun kesulitan menghampirinya, perasaan tersebut disebabkan oleh hilangnya kekhawatiran dan keresahan. Dalam mode ini seseorang akan menerima apa adanya setiap ujian hidup tanpa mencoba untuk mengatasi, memberikan solusi ataupun upaya dalam menjalaninya, orang tersebut meyakini bahwa tak ada gunanya segala upaya dan membiarkan masalah selesai dengan sendirinya . Tentu saja ini adalah pemikiran yang keliru, membiarkan segala sesuatu terjadi pada kita tanpa ada pembelaan diri atasnya. Bersyukur dan memprogram diri dalam mode pasif itu merupakan persepsi yang berbeda. Jiwa yang bersyukur akan berusaha untuk menerima segala sesuatu yang terjadi namun tetap mempunyai semangat dalam mengatasi tiap permasalahan, lain halnya dengan mode pasif yang malah menerima saja tanpa ada usaha untuk bertahan dan bertindak dalam penyelesaian rintangan hidup.

          Pada kesempatan kali ini kita akan mengenal bentuk pertahanan psikologis manusia. Mengapa ini perlu? Memahami perilaku dan pola pikir manusia secara lebih mendalam akan menciptakan awareness (kesadaran) dalam diri atas  konsekuensi apa yang akan diperoleh ketika kita mengikuti aliran hidup yang kita yakini atau bergaul dengan orang yang selalu menebarkan energi negatif, dan mengerti gejala yang ditimbulkan saat kita dihadapkan dalam beberapa keadaan, selain itu kita juga bisa menumbuhkan rasa saling menghargai dan menyayangi karena kita mengerti apa yang sedang terjadi pada manusia itu sendiri.

       Dalam ilmu psikologi, pertahanan psikologis dikenal sebagai katarsis yang mana mekanisme pertahanan diri ini berbeda - beda untuk setiap orang. Pertahanan psikologis merupakan hal yang manusiawi, saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi tubuh kita akan merespon dengan berbagai macam bentuk. Saya akan memberikan beberapa contoh bentuk katarsis yang seringkali kita lakukan.

  • ​Represi

    Represi merupakan usaha seseorang untuk mengubur ingatannya tentang hal tertentu dan berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Biasanya hal ini berkaitan dengan kejadian yang menyedihkan atau memalukan. Walau demikian, hal ini tetap memengaruhi setiap respon yang ia ekspresikan terhadap apa yang ia pendam.

  • ​Denial

   Sesuai dengan arti katanya Denial yaitu menyangkal atau menolak kebenaran akan realita. Pastinya, jika kita menyangkal fakta yang ada berarti hal tersebut bukanlah hal yang kita inginkan. Perlu dipahami bahwa dalam kehidupan ini akan selalu ada kejadian di luar ekspektasi, manusia tidak bisa memegang kendali secara penuh terhadap rentetan peristiwa, alih-alih manusia hanya bisa meminimalisir akan kemungkinan - kemungkinan buruk yang akan terjadi. Saya ambil contoh, Andi sedang mengalami konflik dalam keluarga tapi ia berpikir "Semua baik-baik saja di rumah, tidak ada masalah." Dengan menyangkal konflik yang ada, Andi mungkin menciptakan ilusi harmoni untuk menghindari ketidaknyamanan, kemudian contoh lainnya seseorang yang merasa terbebani oleh tugas-tugas kerja, ia berpikir "Saya bisa menangani semua ini tanpa masalah, tidak perlu bantuan." Dengan menyangkal tingkat stres yang sebenarnya, individu tersebut mungkin tidak menyadari potensi dampak negatif pada kesejahteraan mental dan fisiknya.

  • ​Displacement

     Bentuk mekanisme pertahanan psikologis ini merupakan pengalihan emosi atau perilaku dari sumber ke target lain. Misalnya, ketika salah satu teman kita sedang tertekan karena musibah yang ia alami, karenanya dia mudah marah terhadap hal-hal sepele sehingga hubungannya dengan kita tidak seharmonis seperti biasa. Perlu disadari juga bahwa saat manusia berada dalam frekuensi emosional yang tidak stabil seperti merasa marah, sedih, dan tertekan kita diharapkan untuk bisa memaklumi perasaan, pemikiran dan perilakunya atas kejadian yang menimpanya,  jadikanlah diri kita sebagai sebuah ruangan untuk ia istirahat. Pelukan, dukungan (support) dan rasa empati akan membuat ruangan itu terasa lebih hangat, dengan begitu frekuensi tersebut lamban - laun menjadi normal kembali, kita hanya perlu mencoba merasakan rasa yang dalam itu, mencoba meresapi dan memahami betapa emosi - emosi negatif yang dirasakan itu terkadang hanya butuh pengertian dan kasih sayang (empati) dari orang lain.

  • Regresi

       Regresi terjadi ketika seseorang menghadapi tekanan, stress atau ketidaknyamanan yang tinggi. Dalam psikologi, regresi bisa mengacu pada perubahan perilaku, pola pikir dan respons emosional yang menyerupai pemikiran yang kurang dewasa (primitif). Orang yang mengalami regresi selalu membandingkan masa sekarang dengan masa lalu, ia membayangkan betapa sederhana dan menyenangkan disaat dirinya masih memiliki seseorang yang dicintai atau merasa terlindungi dan disayangi oleh orang tua, serta merindukan kenangan manis ketika kekhawatiran dan beban hidup tidak terasa begitu hebat. Dalam beberapa kasus, mereka yang menggunakan regresi (alamiah tubuh) untuk mengurangi ketegangan hidup sehari - hari sebagai mekanisme pertahan psikologis tidak menyadari pengekspresian emosional dalam perilakunya yang mulai menunjukkan tanda - tanda dari agresi seperti mencari pemahaman dari orang lain atas dirinya, merengek saat merasa kesulitan, semula adalah orang yang penyabar tiba - tiba menjadi temperamen layaknya balita. Apabila ini berlangsung cukup lama, seiiring waktu mereka akan kelelahan, terisolasi, meningkatnya kecemasan lalu pada akhirnya semua akan berada di puncak depresi yang berujung putus asa.

      Setiap orang memiliki latar belakang, kepribadian, pengalaman dan kesehatan mental yang berbeda. Perbedaan faktor ini membuat mekanisme pertahanan psikologis bervarasi, kita tidak bisa memilih katarsis mana yang akan sesuai dalam menghadapi tekanan atau konflik, tetapi tubuh kita sendirilah yang secara alami meresponnya. Contoh yang sudah saya jelaskan tidak merangkul secara keseluruhan tentang mekanisme pertahanan psikologis, tentu saja terdapat banyak bentuk mekanisme pertahanan lainnya. Sigmund Freud yang merupakan bapak psikoanalisis dunia mengidentifikasi setidaknya ada sepuluh mekanisme pertahanan psikologis, selain dari itu terdapat juga beberapa mekanisme pertahanan psikologis tambahan oleh ahli psikologi modern. Poin penting yang perlu digarisbawahi ialah bagaimana kita merawat kesehatan mental untuk kesejahteraan hidup di masa mendatang. Luka fisik itu bisa dilihat, apabila lukanya parah kita akan segara mengambil tindakan untuk menyembuhkan luka tersebut, sama halnya dengan luka psikis yang tidak bisa kita anggap remeh. Pengelolaan emosi memang bukan hal mudah, butuh waktu bertahun - tahun agar bisa mentransfer energi emosi dengan frekuensi yang tepat. Pengetahuan kesehatan mental perlu diperluas untuk bekal dalam mempraktikannya dikehidupan sehari - hari. 

        Terkadang kita memasuki fase di mana kita benar-benar merasa sendiri, bahkan orang tua, kekasih, dan sahabat dekat kita tidak bisa menenangkan jiwa yang sedang kacau. Maksudnya, dalam beberapa keadaan, kita memang hanya ingin sendiri, hanya ingin berbicara hal yang mendalam dengan diri, diri yang ingin meluapkan emosi negatif yang sudah tidak bisa dibendung. Beberapa dari kita mungkin menangis sejadi-jadinya saat peristiwa yang menyakitkan terjadi, ada sebagian yang hanya diam mengurung diri di dalam kamar, entah itu menangis dalam diam atau hanya merenungkan keadaan, ada juga tipe yang tidak ingin diam di rumah melainkan pergi ke tempat yang menurut mereka nyaman untuk menenangkan diri. Namun, ada juga yang melampiaskan amarahnya dengan membuat benda-benda disekitarnya berantakan hingga melempar dan memecahkan barang. Ingatlah, kita sendiri yang menentukan, apakah ingin merawat kesejahteraan diri atau masuk ke sistem diri yang malafungsi?.

Mari renungkan sejenak, setelah sekian banyak peristiwa yang sudah dilalui, adakah hal tersebut memengaruhi pola perilaku kita selama ini. Teruslah berjuang, jangan pernah lelah untuk mengasihi diri, peluklah dia, berikan motivasi dan selalu apresiasi atas pencapaiannya.

Sekian..

See you on the next journey! 😉

Komentar