Misteri di Atas Kepala (Part 1)

Setelah sekian lama akhirnya bisa update juga, hahaha..Setiap bahasan yang dituangkan, saya meluangkan waktu untuk memahami apa yang mau saya tulis, mencari di berbagai referensi, entah itu jurnal, video dokumenter, buku ataupun situs resmi yang relavan dengan apa yang mau saya bahas. Ada yang selesai 5 hari bahkan 1 bulan, tergantung bobot SKS nya.. wkwkwk

Oleh: Sahrul Ramadhan, MSc.

Hai... Bersiaplah, peganglah tanganku, kita akan terbang sangat, sangat, sangat tinggi menembus lapisan troposfer untuk mengetahui bagaimana awan terbentuk. Wush..... Saat melihat langit, kita hampir selalu melihat awan, dari tempat yang tinggi ataupun tempat yang rendah. Terkadang berbagai imajinasi bentuk awan muncul karena gelombang awan yang bervariasi, ada yang menyerupai bentuk buah, hewan dan bentuk unik lainnya. 

rare-gallery
Jadi.. sebenarnya awan itu apa? Awan terbentuk dari tetesan air atau kristal es (kepingan salju). 70 persen bumi kita diselimuti oleh air, saat sinar matahari mencapai permukaan bumi, maka suhu mulai memanas dan menyebabkan air menguap ke lapisan atmosfer, sedikit demi sedikit ia akan menjadi dingin, lama-kelamaan uap tadi berubah jadi bintik air/kristal es yang super duper kecil (mikroskopis). Pada akhirnya, mereka menggumpal dengan berbagai bentuk dan memiliki jenis yang berbeda satu sama lain. Sama halnya seperti kamu menutup segelas teh panas pada gelas, saat membuka tutupnya kamu akan menemukan butiran-butiran embun. Berat awan bisa mencapai jutaan ton namun tetap saja mengapung di atmosfer. Kehadirannya bisa melindungi bumi dari panas matahari, tetapi juga memerangkap panas yang menyebabkan suhu lebih tinggi, angin bisa meniupnya dengan kecepatan 240 km/jam atau tidak bergerak sama sekali ketika angin melaluinya, hal ini dipengaruhi oleh tekanan udara dan kecepatan angin pada ketinggian yang berbeda.

Apa saja jenis awan?

Perlu saya ingatkan kembali, pelajaran tentang awan sudah ada sejak kita duduk di bangku SD, namun masih ingatkah kamu ada berapa jenis awan? Ya, terdapat 10 jenis awan, mereka adalah cirrus, cirrocumulus, cirrostratus, altrostratus, altocumulus, nimbostratus, stratus, stratocumulus, cumulus, cumulonimbus. Kita akan terbang setinggi 6.000 - 43.000 kaki di atas permukaan laut. Perjalanan baru saja dimulai. Kenakan pakaian dan masker yang sudah ku desain dan ku siapkan untukmu, suhu dan oksigen pada ketinggian itu sangat tidak ramah untuk tubuh kita. Sudah? ayo berangkat!...

1. Awan Stratus (Stratus)

mmm
stratus.rare-gallery
Sekarang kita berada pada ketinggian 6.000 kaki, di dalam awan ini, suhunya bisa mencapai -35°C hingga -45°C. Ayo kita naik ke bagian atas awan ini. Fuuh... suhunya sekarang turun jadi -47°C dan bahkan bisa mencapai -57°C. Tenang, baju dan masker yang telah kubuat akan membuatmu tetap hangat. Kebanyakan dari kita tidak terlalu memperhatikan jenis awan ini, salah satu penyebabnya, mungkin karena awan ini terlalu datar dan terlihat sendu (sedih) dan memang awan ini selalu berkaitan dengan akan turunnya hujan, dengan tipenya yang membentang luas di atas permukaan bumi membuat benda-benda langit termasuk matahari bahkan tak terlihat karena tebalnya yang mencapai ratusan meter. Awan ini terbentuk ketika udara hangat berpindah ke daerah yang lebih dingin dan mendingin. Saat udara hangat mendingin, ia mencapai titik di mana ia tidak dapat lagi menahan seluruh kelembapannya. Hal ini meyebabkan kelembapan mengembun menjadi tetesan air kecil atau kristal es. Nah, tetesan atau kristal ini bergabung membentuk lapisan awan datar yang dikenal sebagai stratus.

2. Awan Kumulus (Cumulus)

Kumulus
Apakah kamu menyukai awan ini? Namanya kumulus, ia gembung, besar, vertikal dan terlihat sangat lembut, kalo permen lovers bilangnya ''si permen kapas'', hmm gimana, kamu setuju?. Awan ini termasuk salah satu awan yang posisinya rendah, sekitar 6.500 kaki atau di bawah 2000 meter. Akan tetapi, beda ceritanya kalo ia berubah menjadi kumulus kongestus yang dapat meluas secara vertikal hingga 10.000 kaki (2000 - 3000 meter) di atas permukaan tanah. Kumulus sendiri berasal dari bahasa latin yang berarti ''tumpukan''. Untuk kalian yang suka hari yang cerah, kumulus bisa dijadikan salah satu tandanya, kemunculan awan ini menunjukan kondisi atmosfer yang stabil. Awan ini terbentuk ketika udara lembab di dekat permukaan memanas dan naik, lalu mendingin saat naik.  Saat udara mendingin, uap air mengembun menjadi tetesan air atau kristal es, membentuk bentuk awan yang khas. Ayo lanjut..

3. Awan Kumulonimbus (Cumulonimbus)

Kumulonimbus. WMO
Awas! Hati-hati, awan ini bisa sangat berbahaya karena banyak mengandung muatan listrik. Kok bisa? Banyak dari kita mengira awan itu lembut dan tenang, sepintas sih... memang terlihat seperti itu, akan tetapi sebenarnya banyak yang terjadi di dalam awan yang tidak bisa kita lihat secara langsung dengan mata telanjang, tetesan air dan partikel es dalam bentuk mikroskopis saling bertumbukan saat udara naik dan turun dengan sangat cepat di dalam awan. Saat turbulensi terjadi, muatan positif dan negatif menjadi terpisah, bagian atas awan menjadi positif dan bagian bawah awan bermuatan negatif. proses pemisahan muatan diakibatkan oleh angin vertikal dan interaksi yang kompleks di dalam awan, partikel es yang lebih ringan memperoleh muatan positif sedangkan tetesan air yang lebih berat memperoleh muatan negatif. Aliran udara secara vertikal adalah salah satu faktor yang membuat semua muatan positif berpindah ke bagian atas awan dan bagian bawah dipenuhi dengan muatan negatif. Selama ini kita mengira bahwa petir menjalar dari atas ke bawah, padahal faktanya justru dari bawah ke atas. Saat pemisahan muatan selesai, muatan negatif menjalar dari bagian awan membentuk yang namanya step leader, kemudiaan saat muatan positif dari permukaan bumi (umumnya gedung atau permukaan yg tinggi) bertemu, maka terjadilah hentaman, dan.... pada akhirnya proses sambaran petir pun terjadi. Sudahlah, kita jangan berlama-lama di sini, ayo pergi!...  

4. Awan Stratokumulus (Stratocumulus)

Stratokumulus. WMO
Sekarang, kita masih terbang pada ketinggan yang sama dengan awan stratus dan kumulus yakni 6600 kaki. Ini adalah awan stratokumulus. Bentuk awannya lumayan bagus, pendapatmu gimana?. Untuk suhu pada bagian atasnya bisa mencapai -5° hingga -10°C. Warna awan ini abu-abu keputih-putihan. Biasanya awan ini memiliki ketebalan 200-400 meter dan bahkan bisa memanjang secara horizontal hingga puluhan km tanpa putus. Awan stratokumulus sering dikaitkan dengan kondisi atmosfer yang stabil.  Maka dari itu, awan ini juga bisa dijadikan tanda cuaca cerah dan kemungkinan kecilnya akan terjadi curah hujan ringan, seperti gerimis. Namun, jarang terjadi hujan deras. Oh iya, awan ini adalah salah satu awan yang paling umum kita jumpai di seluruh dunia. Terkadang awan ini tersusun membentuk barisan, tapi kadang awan ini menyebar di langit. Mau lanjut? Sebelum itu, kita minum dulu yuk. Bagiamana? Segar? Ayo lanjut.

5. Awan Nimbostratus (Nimbostratus)

Bersiaplah, kita akan terbang sedikit lebih tinggi.

Nimbostratus
Ini dia, awan nimbostratus. Secara umum, ketinggian awan ini adalah sekitar 10.000 kaki di atas permukaan yaitu di pertengahan lapisan troposofer. Meskipun sebenarnya gelap, tapi bagi kita pengamat di permukaan, seringkali tampak terang di dalamnya. Nimbo sendiri berarti awan yang akan hujan atau awan yang mengandung air hujan dan stratus artinya datar memanjang. Awan ini terbentuk dari awan kumulus yang bertransformasi menjadi awan hujan. Dilihat dari tampilan awan ini, kita sering mengaitkannya dengan cuaca buruk atau bersalju di daerah yang memiliki musim dingin, walaupun begitu awan ini tidak membawa badai ataupun petir kecuali bergabung atau tercampur dengan jenis awan lain seperti  kumulonimbus, tetapi jarang sekali awan ini dan kumulonimbus muncul di saat yang sama. Ketebalan vertikal nimbostratus biasanya 2-4 km dan pada beberapa kasus ada yang mencapai 8 km, perlu dicatat ya ketebalan awan tergantung kondisi dari atmosfer.

6. Awan Altokumulus (Altocumulus)

Altokumulus. WMO
Kita sudah sampai pada bagian altokumulus, awan mungil yang tersusun rapi dalam barisan horizontalnya, perhatikanlah, kita bisa melihat birunya langit melalui sela-sela awan ini. Dalam hayalanku mereka seperti sedang menari-nari di atas sana huhu. Nama altokumlus berasal dari bahasa latin yang mana "alto" itu tinggi dan "kumulus" itu gumpalan. Awan ini terdiri dari butiran-butiran air dengan suhu berkisar 10° C berbentuk kristal es, umumnya awan ini tidak menimbulkan hujan, namun dapat menjadi indikasi dalam perubahan cuaca. Ketinggiannya berkisaran antara 7000 - 23.000 kaki atau setara dengan 2 - 7 km di atas permukaan tanah, altokumulus sering terlihat di daerah yang beriklim sedang dan tropis (termasuk di negara kita, Indonesia). Saya yakin, pasti di antara kalian pernah melihat awan ini.

7. Awan Altostratus (Altrostratus)

Altrostratus. WMO
Wush.... Mataharinya terlihat redup. Tentu saja, ini adalah awan altostratus, alto sendiri berasal dari kata ''altum'' yg artinya tinggi dan ''stratus'' berarti datar atau tersebar. Ketinggian kita sekarang berkisar 7000-23.000 kaki di atas permukaan tanah (AGL) atau setara dengan 2-7 km. Jangkauan altostartus bisa membentang hingga hampir 1000 km dengan warnanya yang keabuan atau kebiruan,  penampilannya yang lurik (menjalur) atau seragam membuat altostratus berbeda dari kebanyakan genus awan yang memiliki beberapa variasi gelombang ataupun bentuknya. Walaupun dari observator cuaca mengklaim bahwa kemunculan awan ini sebagian besar membentang seperti selimut dengan fitur yang sama, namun ada beberapa varietas untuk altostratus, yaitu translucidus, undulatus, opacus, duplicatus, dan radiatus. Saat awan ini membentang luas, hampir seluruh permukaan langit tersamarkan, pada area bagian yang paling tipis, kita bisa melihat cahaya matahari yang blur menyebar menembus celah atau spasi awan, nah cahaya yang kita lihat itu dinamakan ground glass effect yang mana hal ini mengidentifikasi adanya varietas translucidus, singkatnya varietas ini adalah salah satu bagian altostratus yang tembus cahaya. Bagaimana dengan pertanda kemunculan awan ini? Secara global, kemunculan awan ini bukanlah suatu pertanda yang buruk dalam prakiraan cuaca, selain itu awan altrostratus merupakan indikasi kondis atmosfir yang stabil, kemungkinan kecilnya terjadi hujan ringan. Mau tau fakta menarik tentang awan ini? Kemunculan altostratus bisa memantulkan kembali setengah radiasi dan suhu ke luar angkasa. Hal ini bisa mencegah kenaikan suhu atau pemanasan yang berlebihan. Petualangan kita pada level awan terendah dan menengah sudah selesai sampai di sini. Bersiaplah untuk terbang lebih tinggi..

Warning!. Hah? waduh, ada sistem kostum yang rusak pada bagian oksigen dan pengontrol suhu, mungkin akibat singgah di awan kumulonimbus. Bip (mengaktifkan perbaikan otomatis).

8. Awan Sirostratus (Cirrostratus)


Fuuuh... Anginya cukup kencang. Ya.. selamat datang di awan sirostratus dengan ketinggian berkisar20.000 - 30.000 kaki. Sirostratus merupakan salah satu awan tingkat tinggi. Tuh, jika diperhatikan, bentuk awannya terlihat tipis dan berserabut halus dengan jalur lurus.  Suhu di sirostratus biasanya lebih dingin dari -20° C, apa bisa lebih dingin? Jangan salah, bisa dong, suhunya bahkan bisa mencapai -80° C di bagian atasnya dan ahli meteorologi mengklaim bahwa suhunya bisa lebih dingin dari itu saat tergabung dengan badai petir yang dahsyat. Terbentuknya awan ini menandakan adanya gelombang udara hangat apabila awan ini terbentuk setelah sirus. Selain itu hujan diprediksi akan terjadi 12-24 jam kedepam setelah pembentukannya atau bisa lebih cepat apabila bagian depan awan bergerak lebih cepat yaitu dalam 6-8 jam setelahnya. Sebentar ya, aku kasih paham dulu maksud dari bagian depan awan. Bagian depan (front) pada awan didefinisikan sebagai pertemuan 2 jenis udara yang berbeda, yaitu udara hangat dan dingin dengan masing-masing memiliki sifat suhu dan kelembapan yang berbeda, nah hal ini bisa memicu terjadinya turbulensi, saat front melalui suatu area hal ini dapat memengaruhi cuaca, seperti hujan, badai petir, angin kencang dan tornado. Bagaimana? Agak merasa pusing? Wikwikwik. Untuk pembahasan tentang front kita akan kupas tuntas pada bahasan ''Terms in weather''.

Mari lanjutkan....

9. Awan Sirokumulus (Cirrocumulus)

Hohoho..... Bernafaslah dengan santai sebelum kita terbang menuju awan sirokumulus. Kedipkan matamu, lihatlah di sebelah kanan dan kirimu sebelum lanjut membaca. Sudah? Ayo pergi...

Sirokumulus. WMO

Saat ini, kita terbang pada ketinggian 6000 meter atau setara dengan 20.000 kaki di atas permukaan laut sirokumulus berasal dari kata latin sirus yang berarti ''rambut ikal'' dan kumulus yang berarti ''tumpukan''. Sekarang lihat gambar awannya, terlihat ada gumpalan-gumpalan kecil berwarna putih atau abu-abu muda yang bergelombang. Awan ini termasuk yang jarang terlihat, biasanya sirokumulus terbentuk ketika ada peningkatan kelembaban di lapisan menengah atmosfer, selain itu awan ini juga merupakan hasil perubahan bentuk dari awan kumulus dan sirus. Jika kamu suatu hari melihat keberadaan awan ini meluas dan menebal maka carilah tempat berteduh karena itu adalah pertanda cuaca buruk akan datang. Walaupun begitu, sirokumulus bisa dijadikan objek yang tepat untuk diamati bagi kamu yang suka senja ataupun saat matahari terbit di pagi hari.

10. Awan sirus (Cirrus)

Yuhu... selamat datang di bagian awan paling tinggi dari semua jenis awan, sekarang kita berada diketinggian 43.000 kaki di atas permukaan laut. Taukah kamu, beberapa sumber menyebutkan bahwa awan sirus bisa terbentuk pada ketinggian 66.000 kaki. Waw.


Posisi awan sirus ada di bagian stratosfer, lihatlah, bentuknya seperti serat-serat halus tipis, berumbai dan tidak merata. Awan ini sepenuhnya adalah kristal es yang membeku dari uap air di atmosfer yang sangat dingin. Umumnya suhu sirus  dapat mencapai -40° hingga -60° C, perlu diingat suhu pada awan sirus itu bervariasi tergantung pada kondisi atmosferik di tempat tertentu. Awan ini bisa menghasilkan fenomena-fenomena alam yang menakjubkan, tentunya dalam beberapa keadaan yang bisa menciptakan hal itu terjadi.

Sun dog Phenomenon. Wikipedia org.

Halo Phenomenon. wikipedia.org

Halo Phenomenon. Wikipedia.org

Bagaimana, menakjubkan bukan?

Oh ya, kita sudah terbang cukup lama, sebelum tabung oksigen kita habis, ayo segera turun. Aku harap pengalamanmu hari ini menyenangkan. Percayalah, aku akan kembali dengan penuh kejutan pada sesi berikutnya, sampai jumpa!

                                      ๛Bersambung.....

Petualangan kita belum berakhir!

Nantikan "Misteri di Atas Kepala Part II''  

dhananubageur20@gmail.com









Komentar