Siapa yang lebih manusia (Humanity) ?

Penulis asli: Sahrul Ramadhan, MSc.

Hai... Bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan. Seperti biasa, saya membuat beberapa poin besar agar alur pemikiran saya tersampaikan dengan baik. Observasi, analisis, korelasi dan deduksi, itulah beberapa tahapan yang saya lakukan, sangat sederhana, namun cukup kuat untuk menjadi pondasi pada bahasan kali ini. Sebelum melanjutkan membaca, perlu diketahui bahwa tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan siapapun dengan tujuan negatif melainkan murni dari kegundahan dan melankoli kehidupan yang dialami langsung oleh penulis.

  • Manusia (Human)
     Tentunya, saya akan menumpahkan berbagai definisi dari bentuk wadah yang berbeda untuk memahami arti manusia itu sendiri. Ditinjau dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), manusia adalah ''makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain), ia bisa juga khilaf ''. Di beberapa bidang studi seperti psikologi menyatakan, manusia adalah makhluk kompleks dengan kemampuan kognitif, kapasitas kesadaran diri dan introspeksi. Terdapat sedikit perbedaan dengan studi filsafat yang lebih menekankan kepada rasionalisme, manusia itu mampu menentukan makna dari tujuan hidup mereka melalui sudut pandang moral dan etika. Lain halnya dengan sosiologi yang mengartikan manusia itu sebagai makhluk sosial, menciptakan institusi dan terlibat dalam struktur sosial. Pada disiplin ilmu ini manusia adalah apa yang ada di sekitar mereka dan norma budaya apa yang dianut. Lalu, apa arti manusia menurutmu?

         Mari kita utuhkan untaian definisi manusia tadi menjadi satu. "Manusia adalah makhluk berakal, sadar, memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup, tapi kadang khilaf''. Selama kita membenci atau menyukai orang lain, mereka tetaplah manusia. Sengaja atau tidak, kekeliruan dan kesalahan adalah salah satu jejak dalam kehidupan kita sebagaimana manusia. Menyinggung tentang kesalahan, pertanyaan saya adalah, apakah setiap kesalahan yang sudah terjadi itu bersifat manusiawi? Nah, sekarang kamu mulai berpikir, dan mungkin menjawab ''nggak juga'' atau ''tergantung dari kesalahannya''. Sadar atau tidak, sebenarnya kamu mulai menafsirkan apa arti dari manusia itu sendiri. Makna dari kesalahan itu sebetulnya subjektif, sebelum itu mari kita sepakati bahwa ada tiga macam kesalahan yakni, kecil, sedang, dan besar (fatal). 

          Kita ambil contoh; ''Danu adalah orang yang beranggapan bahwa ada sebagian barang manusia yang tidak bisa dipakai bergantian tanpa toleransi apapun. Suatu ketika, dia sedang mengeringkan tubuhnya yang basah seusai berenang menggunakan handuk, ternyata ada beberapa temannya yang iseng menceburkan Danu ke dalam kolam renang, tentu saja handuk miliknya ikut basah tergenang air''. Teman-teman Danu menganggap hal itu merupakan kesalahan kecil, bahkan ada beberapa yang menilai itu bukanlah suatu kesalahan, karena mereka bisa saja meminjamkan handuk kepadanya. Analisis di dalam pemikiran Danu, hal itu bisa menjadi kesalahan yang besar (fatal). Pastinya, dia tidak mau memakai salah satu handuk milik temannya sekalipun itu bersih. Hal ini merupakan salah satu contoh sederhana yang mungkin saja terjadi pada kita suatu saat.

           Tiap lembar kesalahan mempunyai kesan rasa yang berbeda, begitu juga dengan penilaian kesalahan yang akan divalidasi berdasarkan standar emosi (senang, sedih, kecewa, marah)  dan pola pikir tiap individu. Hm... (kata kamu sambil menyandarkan diri atau mengangguk kecil). Kita belum selesai, di samping itu ada beberapa tindakan kesalahan yang diatur oleh undang-undang atau peraturan negara, langsung saja kita ambil perumpamaan, ''Kamu menculik seseorang lalu kamu menghilangkan nyawa orang tersebut, namun sebelum itu kamu merampok uang seorang wanita yang sedang berjalan di gang sepi''. Kesalahan yang kamu perbuat tidak lagi dipandang kecil atau sedang apabila menyangkut tentang peradilan hukum negara, ketika kamu berurusan langsung dengan hukum, semua kesalahan akan dinetralisir menjadi kesalahan besar (fatal) sehingga kamu akan dijatuhi hukuman yang mana nilai tambahnya adalah kamu bisa saja menjadi salah satu duta koran atas kesalahan (pelanggaran) yang sudah kamu lakukan. 


Sekarang, kedipkan matamu dengan cepat beberapa kali. Mengapa? Supaya matamu tetap lembap sebelum membaca di poin selanjutnya..

  • Peradaban manusia (Human civilization)

        Saya akan mengajak kamu untuk berkemah di suatu zaman. Tenang, bukan zaman es atau dinosaurus, tapi zaman yang akan membuatmu haus dan lapar. Bayangkanlah saat ini saya dan kamu sedang memperhatikan beberapa bangunan yang runtuh, seketika bunyi ledakan terjadi di mana-mana, dan pada saat itu juga kita berlari ke tempat yang lebih aman, ya, perkemahan untuk para pengungsi. Selamat datang di zaman perang dunia I, bukan hanya susah untuk bertahan hidup mencari makanan dan air, tetapi juga nyawa yang seperti telur di ujung tanduk. Kita setuju bahwa peperangan adalah kesalahan yang besar (fatal), jika dilihat dari sudut manapun tetap saja pernyataan perang itu di luar dari garis kemanusiaan. Sebelumnya saya ingin menggaris bawahi bahwa perang terjadi karena kesalahpahaman, penjajahan untuk merebut sesuatu dari pribumi dan menginginkan kekuasaan.

      Adapun perang untuk menegakkan keadilan, membela dan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik bersama. Di dalam dunia perang, kematian orang lain seperti menjadi keharusan, namun begitu sejatinya, perang pasti selalu terbagi pada dua pasang sisi, sepasang sisi adalah perang antara hitam dan hitam (memperebutkan kekuasaan), berbeda dengan sepasang yang lain, yaitu hitam dan putih yang berarti satu pihak hanya ingin hidup dalam kedamaian, tapi tidak demikian dipihak hitam yang berusaha menginjak kehidupan yang lain dan merebut apa yang dimiliki oleh pihak yang bersebrangan. Terkadang kerakusan dan dosis hasrat individu yang terlalu tinggi bisa mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang salah, terlebih lagi mendoktrin orang lain untuk menanam bibit dengan tujuan yang sama. 

       Beberapa dekade telah berlalu, kini manusia sudah menduduki era teknologi dan pengetahuan terkini. Zaman yang serba canggih telah menambah definisi kata ''perang'', bukan hanya itu, berkembangnya pengetahuan saat ini dijadikan salah satu jembatan oleh beberapa kelompok untuk menyebrang dengan tujuan tertentu. Di zaman apapun kita, tetap saja manusialah yang menjadikan setiap peradaban itu terjadi, kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai manusia tidak lain untuk memudahkan pekerjaan dan aktifitas sehari-hari. Walaupun demikian, akankah kita merasa bahagia dengan realisasi kehidupan yang modern ini? Pastinya kita semua setuju. Bisa mengurangi kesukaran dalam dunia kerja atau menyelesaikan suatu urusan merupakan keinginan setiap orang, terlepas dari itu, apakah lapangan pekerjaan semakin banyak?. Mendunianya kepintaran buatan (AI) tidak otomatis memberi peluang kerja untuk beberapa kalangan, yang mana dalam dunia perekonomian dikenal dengan istilah kelas bawah, menengah dan atas. Suka atau tidak, kemampuan yang dimiliki tiap insan menentukan income dan status sosialnya di masyarakat. Ada suatu pernyataan yang pernah saya dengar: ''Sekalipun terlahir dari orang kaya, tetap saja kecerdasan tidak memihak secara finansial''. Entahlah, tapi saya rasa pernyataan itu sangat membantu dalam menyulutkan api semangat bagi sebagian kita. Sebenarnya, kita semua cerdas, tapi kemauan dan sikap kitalah yang membedakannya.

           Kita kembali sebentar ke definisi ''perang'' di era sekarang, perang yang berarti membunuh mental dan kepercayaan diri perorangan tanpa menyentuh, begitu mudah menebar permusuhan melalui media internet bersenjatakan akun yang tidak bertanggung jawab. Perang melawan saudara sendiri dengan menebarkan aib, perang agama dengan menebar informasi palsu dan menebar stereotip negatif tentang ras yang berbeda suku. Konflik-konflik ini terukir dengan cerita yang berbeda setiap masanya, masalah yang usang selalu membekas di dada masing-masing. Seperti yang kita ketahui, perdamaian bukanlah hal yang abadi di dunia ini karena perselisihan adalah bumbu esensial dalam perjalanan menuju kematian. Bahkan abad ke-21 ini pun masih saja ada cuplikan layaknya perang dunia I dan II, apalagi kalau bukan Israel dan Palestina sebagai contoh konkrit sisi hitam dan putih yang saya jelaskan sebelumnya. Dari beberapa uraian tersebut, mau di era mana pun itu, manusia tidak akan pernah sampai pada puncak peradaban yang sesungguhnya.

  • Siapa? (Who?)

              Siapa dia yang di ujung sana?, siapa yang jahat?, siapa yang tidak adil?, siapa yang mendidiknya?, siapa saya?. Selama hidup, manusia dihadapkan dengan beragam pilihan. Setujukah kamu dengan pernyataan: ''manusia pada dasarnya tidak ada yang jahat, hanya keadaan yang membuat mereka demikian''. Sifat jahat membuat manusia dalam keadaan destruktif bagi dirinya sendiri dan orang lain yang terkena dampak hasil dari perilaku jahat itu sendiri. Mengenai ungkapan tadi hal itu tidak sepenuhnya benar, walau demikian begitu manusia tetap mempunyai pilihan untuk tidak melakukan perbuatan jahat. Jalan kehidupan ditentukan bukan dari keadaan tapi kemauan dan kesudian dalam menjalaninya, selalu ada cara lain yang lebih baik yang tidak merugikan orang lain entah itu dalam hal tindakan kriminal ataupun interpretasi emosi ( seperti; bohong, dendam, tidak adil, iri, egois, dan apatis ). 

        Kebanyakan orang mungkin mengira bahwa jahatnya manusia itu disebabkan dari dampak reaksi terhadap kejadian di luar ekspektasinya, lamban-laun perasaan tidak adil, kecewa, marah, iri, putus asa dan perasaan negatif lainnya memupuk di dalam hati, lalu  pada akhirnya terejawantahkan menjadi nilai moral baru yang menurutnya itu adalah hal yang logis. Misal; ''kalo hidupku begini terus, terlalu lama untuk jadi orang kaya. Temanku ada yang jadi pengedar narkoba, koruptor dan bisnis ilegal, hidupnya senang. Sebaliknya, aku yang menjalani hidup yang baik justru menyedihkan'' (manusia yang marah dengan keadaan hidupnya). Sama halnya; ''aku tidak bisa apa-apa lagi, demi hidup dan menghidupi keluargaku aku hanya bisa melakukan ini'' (ucap manusia yang putus asa). Tingkat kerumitan jalan cerita hidup adalah kisah masing-masing dari kita, setidaknya jangan jadikan alasan pahitmu untuk mencuri helaan nafas orang lain. Padahal sebenarnya, ada sebagian manusia lain yang meskipun dirinya kaya dan tanpa tekanan hidup apapun ia tetap saja ingin berprilaku jahat. Malahan, melakukan kejahatan adalah hal yang menyenangkan dan candu. Pola pikir manusia yang seperti ini sudah didominasi oleh kelainan mental, dinalar secara logis ia adalah manusia yang sadar akan perilakunya yang menyimpang, dan sekali lagi saya tegaskan NILAI MORALnyalah yang berubah. 

  • Manusia? (Human being?)

    Setiap generasi selalu menempuh pendidikan, orang tua akan jadi guru paling pertama yang tak terbantahkan karena  di sanalah hal yang fundamental untuk memanusiakan manusia. Era yang di mana kita nikmati sekarang ini, tidak sedikit yang berkamuflase dalam wujud manusia. Esensi manusia mulai terdegredasi, turunlah ke jalan, masuklah ke dalam tongkrongan remaja, lihatlah acara tv, dan berselancarlah di media sosial. Hal krusial yang perlu divalidasi ialah, seberapa umum kamu temukan kata-kata yang santun, obrolan yang menambah pengetahuan, waktu yang digunakan untuk belajar, atau paling tidak penampilan yang ramah lingkungan (rapi dan sopan). Contoh konkrit dekadensi moral sangat mudah ditemukan, betapa terkadang manusia tidak terlalu menghiraukan orang-orang di sekitar, pencemaran suara antar tetangga bukanlah hal yang perlu diperhitungkan, ada kalanya kesedihan orang lain menjadi hiburan manusia lain, bukan cuma itu menjatuhkan orang lain ialah kepuasaan manusia untuk mendapatkan gelar ''aku lebih baik darinya'', mengukur kadar perasaan manusia lain atas lontaran kalimat tidak termasuk hal penting dalam komunikasi, hubungan persahabatan atau pertemanan merupakan alasan terkuat untuk saling memberi hinaan kecil (candaan), biarkan saja, lalu manusia di tepi jurang kehidupan, kelaparan dan kesakitan di sana itu bukan urusan manusia lainnya.

      Imajinasikanlah bagaimana semua hal itu menjadi penting, alangkah indahnya kehidupan manusia. Manusia yang bukan hanya berwujud manusia, melainkan manusia yang utuh, manusia berakal dan bermoral, manusia berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya...


Sampai jumpa pada bahasan seru selanjutnya!..💤


Contact me: dhananubageur20@gmail.com

Komentar